Masuk - Daftar - Jadikan Beranda - Favorit - Peta Situs Banjir Rob, Dampak Kerugian, dan Warga yang Menolak Pindah!

Banjir Rob, Dampak Kerugian, dan Warga yang Menolak Pindah

Waktu: 2026-09-12 18:58:01 Sumber: Meadow Rocket Penulis: Olahraga Dibaca: 728x

Menurut dia, dampak ekonomi juga muncul dari kerusakan kendaraan yang sering melintasi jalan yang tergenang rob.

Belum lagi, kata dia, kerugian akibat kerusakan ekosistem, hilangnya mata pencaharian, hingga rumah warga yang semakin lama semakin tenggelam dan perlu ditinggikan setiap beberapa tahun sekali.

Ia menyebut sejumlah kajian telah menghitung nilai kerugian akibat dampak rob di Pantura Jawa Tengah. Namun, ia belum memastikan angka kerugian yang dihitung dalam kajian tersebut.

"Triliunan itu. Dari kerusakan ekosistem, kerusakan, kehilangan mata pencaharian, kehilangan ini ada kok. Jadi valuasinya ada itu, dihitung," ungkapnya.

Fokus mencari solusi

Yusmanto mengatakan, pemerintah tidak ingin gegabah mengeklaim angka kerugian tersebut karena diperlukan kajian yang lebih komprehensif.

Menurut dia, pemerintah lebih berfokus pada upaya mencari solusi atas persoalan yang dihadapi masyarakat terdampak rob.

"Kalau kami membuat kajian ya sesuai kajian solusinya, bukan kajian untuk perhitungan kerugiannya," katanya.

Warga memilih bertahan

Siswa SD pulang sekolah dengan menyusuri akses jalan rusak di Desa Bedono, Kecamatan Sayung, Kabupaten Demak, Jawa Tengah, Kamis (29/1/2026).Nur Zaidi Siswa SD pulang sekolah dengan menyusuri akses jalan rusak di Desa Bedono, Kecamatan Sayung, Kabupaten Demak, Jawa Tengah, Kamis (29/1/2026).Salah satu persoalan yang dihadapi pemerintah adalah warga yang tetap memilih bertahan di wilayah terdampak rob meski rumah dan lingkungan tempat tinggal mereka semakin terendam.

Yusmanto mengatakan, pemerintah telah menawarkan sejumlah opsi, termasuk relokasi. Namun, sebagian warga masih enggan pindah karena memiliki ikatan sosial, budaya, dan ekonomi dengan tempat tinggal mereka.

Ia mencontohkan warga di Timbulsloko, Demak, yang selama bertahun-tahun menggantungkan kehidupan dari aktivitas pertanian, tambak, dan perikanan.

"Karena mata pencahariannya di sana. Kemudian mereka masih terikat secara kultural dan psikologis," ujar dia.

Menurut Yusmanto, persoalan tersebut menunjukkan bahwa penanganan rob tidak cukup hanya dengan membangun infrastruktur pengendali banjir.

Pemerintah juga perlu menyiapkan solusi bagi keberlangsungan kehidupan dan mata pencaharian masyarakat terdampak.

(Editor: Hiburan)

Konten Terkait
  • Deretan Aksi Rasisme di Piala Dunia 2026, Suporter hingga Pemain Jadi Korban
  • GOR Pondok Bambu Jaktim Gelar Nobar Final Piala Dunia 2026 Gratis, Sedia Makan hingga Hadiah Jersey
  • Waduk Delingan Karanganyar Menyusut Jadi Spot Berburu Sunset dan Berkah Petani Musiman
  • Bupati Kulon Progo Ungkap Penyebab Kenakalan Pelajar: Berawal dari Pembiaran Hal-hal Kecil
  • NORAD Terapkan Pembatasan Terbang saat Final Piala Dunia 2026
  • Mengapa Embun Upas Sering Muncul di Dataran Tinggi Dieng?
  • Kebakaran Terjadi di Waterbom Al Barokah Indramayu, Tak Ada Korban dan Penyebab Diselidiki
  • Taktik Kasar Argentina Rusak Laga Final Piala Dunia, Spanyol Dinilai Layak Menang
Konten Rekomendasi
  • Nama Bayi Muhammad MBG Subianto Jadi Evaluasi Disdukcapil Wonosobo, Akta Masih Bisa Diurus 60 Hari
  • Mendagri Prihatin dengan OTT Kepala Daerah: Padahal Sudah Ikut Retret
  • Yogyakarta Masih Butuh 380 Becak Listrik, Pemkot Siapkan Anggaran hingga Rp 15 Miliar
  • Cari Pembuang Bayi di Semak-semak Bekasi, Polisi Periksa 4 Saksi
  • Ketua Komisi III DPR-K Manokwari Apresiasi Polda Papua Barat karena Ungkap PETI di Waserawi
  • AI Akan Bantu Peneliti, Bukan Menggantikan Perannya