Masuk - Daftar - Jadikan Beranda - Favorit - Peta Situs BRIN: Papua Jadi Pusat Keanekaragaman Hayati Indonesia, Simpan Ribuan Spesies Endemik!

BRIN: Papua Jadi Pusat Keanekaragaman Hayati Indonesia, Simpan Ribuan Spesies Endemik

Waktu: 2026-09-12 19:13:33 Sumber: Meadow Rocket Penulis: Pendidikan Dibaca: 862x

‎Papua dinilai sebagai salah satu pusat keanekaragaman hayati terpenting di Indonesia dengan tingkat endemisitas yang sangat tinggi.

Kekayaan biodiversitas tersebut dinilai perlu menjadi dasar dalam perencanaan pembangunan agar tidak mengorbankan ekosistem yang bernilai penting bagi Indonesia maupun dunia.

Kepala Organisasi Riset Hayati dan Lingkungan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Andes Hamuraby Rozak, mengatakan Papua masih menyimpan potensi biodiversitas yang sangat besar dan belum sepenuhnya terungkap melalui penelitian.

"Ini merupakan karunia dan kita masih sangat jarang melakukan pengungkapan di Papua. Karena itu, kami memprediksi Papua menjadi salah satu pusat biodiversitas di Indonesia," ujar Andes dalam media gathering di Jakarta, Jumat (17/7/2026).

Temuan tersebut tertuang dalam laporan Status Keanekaragaman Hayati untuk Ekoregion Papua.

Laporan itu mencatat sedikitnya terdapat 7.994 spesies tumbuhan dan jamur makro di Papua. Sementara itu, jumlah fauna yang telah teridentifikasi mencapai 7.179 spesies, terdiri atas 703 jenis burung, 250 mamalia, 413 reptil, 151 amfibi, 444 ikan air tawar, serta 5.062 spesies serangga. Dari seluruh fauna tersebut, sedikitnya 577 spesies merupakan satwa endemik.

Senior Vice President and Executive Chair Konservasi Indonesia (KI), Meizani Irmadhiany, mengatakan kekayaan biodiversitas Papua tidak hanya terdapat di kawasan daratan, tetapi juga mencakup ekosistem perairan tawar, pesisir, hingga laut.

Menurut dia, pengelolaan keanekaragaman hayati di Papua perlu dilakukan dengan pendekatan berbasis ekoregion agar mampu menjaga keterkaitan antarekosistem sekaligus memperhatikan keberadaan masyarakat adat dan keragaman budaya setempat.

Meizani menambahkan, kawasan Coral Triangle di Papua, termasuk Raja Ampat, merupakan salah satu wilayah dengan keanekaragaman hayati laut tertinggi di dunia.

"Raja Ampat menjadi habitat sebagian besar terumbu karang di Indonesia. Ekosistem ini memiliki keanekaragaman hayati yang sangat tinggi dan merupakan salah satu terumbu karang paling tangguh di dunia. Ini adalah warisan bukan hanya bagi Indonesia, tetapi juga bagi dunia," ujarnya.

Risiko mengintai

Meski memiliki kekayaan biodiversitas yang tinggi, BRIN mengidentifikasi sejumlah ancaman terhadap ekosistem Papua.

Ancaman tersebut meliputi pembukaan jalan yang meningkatkan akses perburuan satwa liar, pemutihan terumbu karang, pencemaran wilayah pesisir, hingga deforestasi dan alih fungsi lahan untuk hutan tanaman industri (HTI), perkebunan kelapa sawit, maupun pertambangan.

Andes mengatakan laporan tersebut diharapkan dapat menjadi dasar ilmiah dalam memitigasi berbagai risiko tersebut sekaligus mendukung penyusunan kebijakan pembangunan.

Menurut dia, ilmu pengetahuan perlu menjadi landasan dalam mencari keseimbangan antara kepentingan pembangunan dan perlindungan keanekaragaman hayati.

"Sains berperan untuk memitigasi risiko tersebut. Keputusan akhirnya tentu merupakan kompromi antara sains dan kepentingan nasional agar kepentingan jangka pendek dan jangka panjang dapat berjalan seimbang, dengan harapan keanekaragaman hayati tetap terjaga," kata Andes.

Senada, Direktur Konservasi Keanekaragaman Hayati Kementerian Lingkungan Hidup (KLH), Inge Retnowati, menilai data biodiversitas Papua merupakan pijakan penting untuk memperkuat perlindungan kawasan yang memiliki nilai konservasi tinggi.

Menurut Inge, informasi ilmiah tersebut dapat menjadi dasar bagi pemerintah dalam menyusun kebijakan pembangunan agar tidak mengabaikan pentingnya perlindungan keanekaragaman hayati.

"Jangan sampai dorongan pembangunan membuat nilai keanekaragaman hayati dianggap tidak penting. Informasi seperti ini sangat dibutuhkan sebagai dasar dalam pengambilan kebijakan ke depan," ujar Inge.

(Editor: Teknologi)

Konten Terkait
  • Meski Kalah di Final Piala Dunia 2026, Presiden Argentina Siapkan Hari Libur Khusus
  • FDA Izinkan 20 Varian ZYN Dipasarkan dengan Klaim Risiko Rendah dari Rokok
  • Dana Kelolaan Sucor AM Tembus Rp 42,6 Triliun hingga Juni 2026
  • Pengacara Bawa Bukti Tambahan untuk Laporkan Pansus Hak Angket DPRD Gowa
  • Google Cloud Fokus Bantu Perusahaan Raih ROI dari Implementasi AI
  • Di DPR, Kepala Perpusnas Keluhkan Anggaran Turun Ganggu Program Literasi
  • Jadwal KRL Solo-Jogja Kamis 16 Juli 2026, Berangkat dari Palur Pagi hingga Malam
  • 2 Jambret Bersajam Sasar Lansia di CFD Rasuna Said, 1 Pelaku Ditangkap
Konten Rekomendasi
  • Cara Menyimpan Kentang Agar Tidak Cepat Rusak dan Awet Berbulan-bulan
  • Baru 30 RDTR Bali Terintegrasi OSS, Kementerian ATR/BPN Minta Percepatan
  • Gaji Kepala Daerah Stagnan Seperempat Abad, Rencana Revisi Sempat Kandas
  • Cerita Warga Depok Rumahnya Diteror Tetangga: Tendang Pagar hingga Bawa Golok
  • Efek Minum Kopi Tiap Hari bagi Tubuh, dari Menit Pertama hingga Bertahun-tahun Kemudian
  • PWI Polisikan Hotman Paris Buntut Ucapan 'Lu Punya Otak Nggak'