Masuk - Daftar - Jadikan Beranda - Favorit - Peta Situs Waka MPR Sebut Peningkatan Literasi Nasional Tidak Boleh Berhenti!

Waka MPR Sebut Peningkatan Literasi Nasional Tidak Boleh Berhenti

Waktu: 2026-09-12 19:04:45 Sumber: Meadow Rocket Penulis: Hiburan Dibaca: 113x

Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat mendorong solusi kolektif untuk mengatasi dampak keterbatasan anggaran Perpustakaan Nasional . Menurutnya, hal itu harus mendapatkan perhatian serius sebagai bagian upaya untuk meningkatkan literasi nasional.

"Sejumlah langkah nyata harus segera dilakukan agar gerakan literasi nasional tidak terhenti. Menghidupkan gotong royong dan kreativitas di semua lini bisa menjadi solusi bagi keberlanjutan gerakan literasi," kata MPR RI Lestari Moerdijat, Senin .

Pada Rapat Dengar Pendapat dengan Komisi X DPR, Kamis , Kepala Perpusnas E. Aminudin Aziz menyebut dengan pagu anggaran 2026 senilai Rp 377, 9 miliar, program pembagian buku gratis ke desa dan taman baca yang selama ini berjalan sukses terpaksa dihentikan total. Sebelumnya, pada 2025 Perpusnas mendapatkan alokasi anggaran Rp 721,6 miliar.

Menurut Lestari, program peningkatan literasi masyarakat harus konsisten dilakukan dan tidak boleh berjalan sendiri-sendiri.

"Sinergi antara pemerintah pusat, daerah, dan masyarakat harus diperkuat dengan aksi nyata," jelasnya.

Apalagi, dia menjelaskan berdasarkan data terbaru Perpusnas menunjukkan Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat nasional per Maret 2026 masih berada di angka 40,6 atau dalam kategori rendah.

Sejumlah langkah konkret harus segera dilakukan seperti antara lain, peningkatan peran daerah dalam ikut mendorong budaya baca dan literasi, serta penguatan kolaborasi multi-pihak yang melibatkan dunia usaha, pegiat literasi, dan komunitas.

"Salah satu problem utama literasi bukan semata ketiadaan minat baca, tetapi masih rendahnya akses terhadap bahan bacaan bermutu. Butuh kreativitas bersama untuk menjangkau hingga pelosok, misalnya dengan memaksimalkan peran Taman Bacaan Masyarakat yang tersebar di daerah," jelasnya .

Selain itu, harus didorong kebijakan fiskal yang ramah buku antara lain dengan menghapus Pajak Pertambahan Nilai buku dan pajak kertas sebagai bahan baku buku.

"Literasi adalah fondasi kedaulatan bangsa. Jika generasi penerus tak mampu menelaah informasi dengan baik karena rendahnya kemampuan literasi, hal itu berpotensi menggerus kedaulatan bangsa di masa datang," tutupnya.

(Editor: Bisnis)

Konten Terkait
  • Psikologi Orang yang Hobi Bertanya Saat Nonton Film, Ternyata Bukan karena Tak Fokus
  • 2 Link Live Streaming Spanyol Vs Argentina di Final Piala Dunia 2026 dan Cara Nonton Gratis di TVRI
  • Pemkab Sigi Ajukan Pembangunan 199 Huntara Tahap II bagi Korban Gempa
  • Simpang Mampang Macet Segala Arah Malam Ini Imbas Pembongkaran JPO Tendean
  • KPK Dalami Tujuan Bupati Kuansing Beri Amplop ke Menhut Raja Juli
  • Tiang Listrik PLN Berdiri di Halaman Rumah, Apakah Pemilik Berhak Minta Ganti Rugi?
  • J Trust Bank (BCIC) Gandeng Pegolf Kristina Yoko untuk Perkuat "Branding"
  • Final Piala Dunia: Si Paling Ngotot Vs Si Paling Sabar
Konten Rekomendasi
  • Purbaya Beberkan Sederet Keuntungan PFII, Apa Saja?
  • Presiden LaLiga Konfirmasi Barcelona Kembali ke Aturan Rasio 1:1
  • Jeda Paruh Musim, Mario Aji dan Veda Ega Pratama Cari Motivasi di Bali
  • Di Balik Bisnis Triliunan Piala Dunia 2026, Jejak Karbon Presiden FIFA Ikut Disorot
  • Prabowo Cek Mesin Pemusnah Sampah Sebelum Panen Raya Program TNI
  • Bekas Lahan Sampah di Sukmajaya Depok Kebakaran, 2 Orang Berhasil Dievakuasi