Masuk - Daftar - Jadikan Beranda - Favorit - Peta Situs PBB Rilis Panduan Resmi Pengembangan Ekonomi Biru Berkelanjutan!

PBB Rilis Panduan Resmi Pengembangan Ekonomi Biru Berkelanjutan

Waktu: 2026-07-29 17:11:01 Sumber: Meadow Rocket Penulis: Kesehatan Dibaca: 848x

Ditambah lagi dengan masalah penangkapan ikan berlebih, polusi, dan perubahan iklim, cara kerja yang terpisah-pisah ini mempercepat rusaknya ekosistem laut. Padahal, ekosistem tersebut sangat penting untuk mengatur iklim bumi, menjaga keanekaragaman hayati, menyediakan bahan pangan, dan menopang pekerjaan miliaran orang di dunia.

Bukannya memberikan satu solusi yang sama untuk semua negara, panduan ini justru membantu tiap negara membuat rencana ekonomi laut berkelanjutan yang sesuai dengan kebutuhan, sistem pemerintahan, dan tingkat perkembangan mereka sendiri.

Panduan ini membaginya ke dalam tiga langkah utama untuk membantu pemerintah memahami kondisi mereka saat ini, menyatukan tujuan perubahan, dan memasukkan prinsip ramah lingkungan ke dalam perencanaan, keputusan, serta investasi sehari-hari.

Solusi berbasis alam menjadi inti dari panduan ini. Panduan ini menekankan bahwa melindungi dan memulihkan ekosistem seperti hutan bakau, terumbu karang, padang lamun, dan lahan basah bisa memberikan banyak manfaat.

Manfaat tersebut mulai dari ketahanan menghadapi perubahan iklim, menjaga keanekaragaman hayati, mengurangi risiko bencana, menjamin ketersediaan pangan, hingga menjaga sumber penghasilan masyarakat secara berkelanjutan.

Untuk mendukung penerapannya, panduan ini juga dilengkapi dengan alat penilaian cepat bernama Sustainable Blue Economy Rapid Readiness Assessment. Alat praktis ini membantu pemerintah memeriksa aturan, lembaga, keuangan, dan sistem kelola yang sudah ada saat ini, sehingga mereka bisa menentukan langkah apa yang harus diutamakan dan memulai perubahan jangka panjang.

"Panduan ini menjadikan solusi berbasis alam, keterlibatan masyarakat, dan kerja sama seluruh lembaga pemerintah sebagai inti dalam pengambilan keputusan. Panduan ini mendorong negara-negara untuk tidak hanya mencari keuntungan jangka pendek, tetapi juga memikirkan dampak yang lebih luas bagi lingkungan, sosial, dan ekonomi," ungkap Susan Gardner, direktur Divisi Ekosistem di UNEP.

Panduan ini juga membantu pemerintah menyalurkan anggaran mereka yang terbatas ke sektor yang bisa memberikan manfaat jangka panjang terbesar bagi manusia dan alam.

Tantangan mengubah rencana jadi aksi nyata

Sementara itu, Dr. Antaya March, direktur Pusat Kebijakan Plastik Global di Universitas Portsmouth mengungkapkan banyak negara punya rencana besar untuk ekonomi laut mereka, tetapi mengubah rencana itu menjadi aksi nyata yang kompak masih menjadi tantangan.

"Panduan ini membantu pemerintah melihat bagian mana yang perlu diubah. Panduan ini juga memberikan cara yang teratur untuk menyatukan aturan hukum, investasi, dan keputusan ekonomi agar perlindungan alam dan pertumbuhan ekonomi bisa saling mendukung," katanya.

Panduan ini juga mengutamakan keadilan dalam pembangunan berkelanjutan. Panduan ini menegaskan bahwa perempuan, masyarakat adat, komunitas lokal, dan kelompok yang selama ini terabaikan harus ikut dilibatkan dalam mengambil keputusan terkait laut dan pantai.

Dengan mendorong kerja sama antar lembaga, aturan yang sejalan, dan investasi pada solusi berbasis alam, panduan ini bertujuan membantu negara-negara mengatasi masalah yang saling berkaitan, seperti perubahan iklim, hilangnya keanekaragaman hayati, polusi, dan sampah.

"Untuk mewujudkan ekonomi laut yang berkelanjutan, pemerintah harus bisa menyeimbangkan antara pertumbuhan ekonomi dan kesehatan jangka panjang ekosistem air. Panduan ini memberikan dasar praktis untuk mengambil keputusan tersebut berdasarkan bukti nyata, sesuai dengan kondisi negara masing-masing, dan fokus pada tindakan nyata," tambah Profesor Steve Fletcher, direktur Revolution Plastics Institute di Universitas Portsmouth.

(Editor: Hiburan)

Konten Terkait
  • 7 Fakta Anak Angkat Bunuh Ayah di Nganjuk, Dendam Pola Asuh Keras Sejak Kecil
  • Jadwal Final Piala Dunia 2026 Spanyol Vs Argentina Pukul 02.00 WIB, Ini Cara Nontonnya di TVRI dan Live Streaming
  • Panglima Klaim TNI Dukung 55,24 Persen Target Produksi Beras Nasional 2026
  • Ketum KOI Harap Prestasi Anggie Intania Chalik Picu Kebangkitan Tinju Indonesia
  • Asa Warga Tanimbar di Balik Proyek Blok Masela Rp 300 Triliun, Harapan Tak Sekadar Cerita
  • Panen Raya Bersama TNI, Prabowo Sapa-Salam Petani Tebu di Malang
  • I.League Rombak Kalender Kompetisi, League Cup Hadir Mulai November
  • Saham Induk Google Melesat 3 Persen Usai Kabar Pengembangan Chip AI Gemini
Konten Rekomendasi
  • Legislator Soroti Usia Kapal Induk Hibah Italia 40 Tahun, Singgung Anggaran
  • Hadapi Kemarau hingga September, BPBD Sulsel Minta Warga Hemat Air dan Setop Bakar Sampah
  • Zulhas: Seluruh Pangan di Papua Akan Disuplai dari Wanam
  • Mengapa BBM Lebih Sering Langka di Luar Jawa? Ini Analisis Pengamat
  • Kerugian JPO Tendean Miliaran Rupiah, Pemprov DKI Colek Perusahaan Pemilik Truk
  • Sengketa Lahan, 226 Siswa SDN Lerpak 2 Bangkalan Belajar di Rumah Warga